Museum Sri Baduga
Oleh
Neng Dewi Kurnia
1305540
Perpustakaan dan Ilmu Informasi
Informasi merupakan hal yang penting dan sudah
menjadi kebutuhan primer bagi setiap individu. Banyak cara yang dapat dilakukan
untuk mendapatkan informasi salah satunya dengan mengunjungi Museum. Banyak
sumber dan ahli yang mendifinisikan Museum secara berbeda dari segi penggunaan
kata namun memiliki makna yang sama. Definisi museum menurut Internasional Council
of Museum (ICOM), yaitu:
“A
museum is a non-profit, permanent institution in the service of society and its
development, open to the public, which acquires, conserves, researches,
communicates and exhibits the tangible and intangible heritage of humanity and
its environment for the purpose of education, study and enjoyment”.
“Museum adalah lembaga non-profit yang bersifat
permanen yang melayani masyarakat dan perkembangannya, terbuka untuk umum, yang
bertugas untuk mengumpulkan, melestarikan, meneliti, mengkomunikasikan, dan
memamerkan warisan sejarah kemanusiaan yang berwujud benda dan takbenda beserta
lingkungannya, untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan hiburan”.
(http://library.binus.ac.id/eColls/eThesisdoc/Bab2/2011-2-00956-DI%20Bab2001.pdf).
Museum Sri Baduga merupakan museum yang
berada di bawah naungan Pemerintah
Daerah Jawa Barat dan Dinas Pariwisata. Museum ini mulai
dibangun pada tahun 1974, selesai
dibangun dan diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia Dr. Daoed Joesoef, pada
tanggal 5 Mei 1980. Setelah diresmikan Museum Sri Baduga yang pada saat itu
masih bernama Museum Provinsi Jawa Barat mulai digunakan. Museum ini adalah
bekas kewedanaan No.385 Jalan Otista, yang tetap dipertahankan sebagai salah
satu tempat cagar budaya Jawa Barat. Sepuluh tahun kemudian, 1 April 1990 nama
museum ini ditambahkan dengan nama Sri Baduga, yang diambil dari nama depan Raja
Padjajaran “Sri Baduga Maharaja Ratu Haji Dipakwan Padjajaran Sri Sang Ratu
Dewata”, atau yang lebih dikenal dengan julukan Prabu Siliwangi. Beliau
dijuluki Prabu Siliwangi karena kemampuannya dalam menaklukan dua kerajaan
Sunda yang dulu hubungannya terpecahkan dan saling bermusuhan, yaitu kerajaan
Sunda Galuh dan kerajaan Sunda Padjajaran. Museum ini tidak hanya memamerkan
sejarah kebudayaan kerajaan Sunda Galuh saja, tetapi juga sejarah kebudayaan
Sunda Padjajaran. Nama Sri Baduga ini dipakai dengan tujuan agar masyarakat
Jawa Barat ini tetap mengenang sejarah Jawa Barat.
Museum
Sri Baduga berlokasi di Jl. BKR, No. 185 Bandung Jawa Barat. Dari
sisi Geografi kota ini terletak diantara 1070 36' Bujur Timur dan 600 55'
Lintang Selatan. Selain kota ini menjadi kota yang bersejarah pada masa
perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia juga memiliki posisi geografis yang
sangatlah strategis baik dari sisi, komunikasi, perekonomian dan transportasi
berada dalam poros jalan raya nasional dan poros jalan raya wisata.
Kota yang berada pada
ketinggian 791 m dpl yang dikelilingi perbukitan dan gunung disekitarnya sangat
potensial secara ekosistem dan lingkungan. Ditambah lagi dengan kondisi iklim
kota yang lembab dan sejuk dengan temperatur rata rata 23,10 C dan curah hujan
rata rata 204,11 mm / tahun memungkinkan orang untuk nyaman beraktifitas dan
berekreasi.
Sebuah
lokasi museum yang cukup strategis sehingga mudah untuk dikunjungi karena berada
dekat dengan jalan raya yang banyak
dilalui kendaraan. Tidak jauh dari Museum Sri Baduga terdapat Monumen Bandung
Lautan Api yang sering dikunjungi oleh masyarakat dengan berbagai tujuan, ada
yang ingin menikmati pemandangannya dan ada juga yang sekedar berfoto saja.
Museum Sri Baduga memiliki Halaman
museum yang dapat digunakan sebagai tempat parkir dengan daya tampung sampai
dengan 20 buah bus dan sering digunakan untuk pertunjukan ataupun latihan anak
sekolahan seperti pencak silat dan biasanya diadakan perlombaan kaulinan zaman
baheula.
Lingkungan
sekitar museum sangat asri, nyaman dan menyejukkan mata meskipun berada dekat
jalan raya. Lingungan yang asri dan nyaman membuat para pengunjung betah dan
tertarik untuk datang lagi ke museum.
Bangunan Museum berbentuk atap rumah
panjang dan rumah panggung tradisional khas Jawa Barat yang dipadukan dengan gaya
arsitektur modern; adapun bangunan aslinya tetap dipertahankan dan difungsikan
sebagai ruang perkantoran. Museum dibangun dengan bentuk seperti itu untuk
memunculkan kesan klasik modern yang tidak melupakan ciri khas Jawa Barat.
Bangunan ini merupakan adaptasi dari kantor kewedanaan Tegal Lega. Dari luar
museum sudah terbayang bagaimana koleksi ditata dengan sedemikian rupa bergaya
klasik modern. Namun setiap pengunjung pasti memiliki pandangan yang berbeda
sebelum memasuki museum yang bergaya klasik modern ini, meski demikian satu hal
yang pasti sama yaitu setiap pengunjung pasti tidak sabar ingin segera
mengetahui keadaan di dalam museum.Museum ini sudah berusia 41 tahun sejak
dibangun pada tahun 1974.
Museum
sribaduga memiliki 3 lantai. Lantai 1 Museum Sri Baduga ini berisi koleksi yang
berkaitan dengan kebudayaaan dan kepercayaan Jawa Barat, seperti arca,
fosil-fosil binatang purba, gambar-gambar tempat bersejarah di Jawa Barat
misalnya Banten, Karawang, Garut, Cianjur.
Lantai 2 berisi koleksi-koleksi yang
berkaitan dengan mata pencaharian masyarakat Jawa Barat dari zaman dahulu,
tetapi ada juga yang saat ini masih banyak ditemukan di masyarakat kalangan
menengah ke bawah. Koleksi-koleksi yang ada di lantai 2 ini diantaranya yaitu
tanggungan kecap, tanggungan tempe, tanggungan cincau, tanggungan minyak goreng
curah, alat penggilingan padi tradisional yang terbuat dari rotan dan kayu,dan
lain-lain.
Lantai 3 berisi koleksi-koleksi yang
berkaitan dengan teknologi dan kesenian Jawa Barat. Misalnya baju-baju
pengantin tradisional dari berbagai daerah seperti cirebon.
Museum Sri
Baduga dibuka pada hari Senin s/d Jum'at pukul 08.00 s/d 15.00 WIB, Sabtu dan
Minggu pukul 08.00 s/d 14.00 WIB, hari libur nasional lainnya tutup. Untuk bisa
masuk ke museum ini sangat murah dan terjangkau. Dewasa hanya dikenakan biaya
Rp.3.000,- , anak-anak dikenakan biaya Rp.2.000,-. Tetapi untuk pelajar dan
mahasiswa yang ingin melakukan observasi dan sudah membuat janji serta
mengirimkan surat, tidak dipungut biaya.
Pengunjung
disambut dan dilayani dengan baik, para pemandu dengan sabar memberikan
informasi yang dibutuhkan pengunjung secara lengkap dan menyeluruh. Museum
ini dapat dimasuki oleh anak-anak hingga dewasa.
Untuk lebih meningkatkan daya
apresiasi masyarakat terhadap museum, berbagai kegiatan telah dijalankan, baik
yang bersifat kegiatan mandiri ataupun kerjasama kegiatan yang bersifat lintas
sektoral dengan berbagai instansi pemerintah, swasta, maupun lembaga asing;
diantaranya berupa penyelenggaraan pameran temporer, pameran keliling, pameran
bersama dengan museum dari berbagai propinsi, berbagai macam lomba untuk
tingkat pelajar, ceramah, seminar, lokakarya, dan sebagainya.
Museum
Sri Baduga menyimpan berbagai benda koleksi. Sampai tahun 2015 sekarang ini
sudah ada sekitar 7000 koleksi. Baik koleksi dalam bentuk set
maupun dalam bentuk satuan. Ada 10 klasifikasi koleksi yang digunakan di museum
ini, yaitu :
01. Geologika Geografika
Yaitu koleksi yang berkaitan dengan batuan dan juga
alat-alat geologi.
02. Biologika
Yaitu koleksi yang berkaitan dengan mahluk hidup pada
zaman dahulu, seperti binatang dan manusia.
03. Etnografiika
Yaitu koleksi-koleksi seperti perkakas dan
barang-barang yang pernah digunakan dalam kehidupan sehari-hari manusia pada
zaman dahulu yang mencirikan suatu etnik.
04. Arkeologika
Yaitu koleksi-koleksi yang merupakan
peninggalan-peninggalan alat-alat arkeologi sejak masuk masa pra-sejarah sampai
masuknya masa kolonial, misalnya prasasti dan kapak.
05. Filologika
Yaitu koleksi-koleksi yang bersifat tulisan, seperti
naskah-naskah tulisan tangan.
06. Nurismatika – Heraldika
Yaitu koleksi-koleksi seperti uang dan lambang-lambang
yang digunakan pada zaman dahulu.
07. Historika
Yaitu koleksi yang merupakan seluruh benda yang
berkaitan dengan perjuangan.
08. Kramologika
Yaitu koleksi-koleksi seperti keramik atau
barang-barang yang datang dari negara luar, tetapi biasanya bukan untuk
digunakan sehari-hari, dan datang dari negara luar, bukan buatan lokal,
sehingga bisa disebut sebagai bukti masuknya kebudayaan luar.
09. Seni Rupa
Yaitu koleksi yang merupakan ungkapan-ungkapan
estetika manusia baik dalam bentuk 2 dimensi atau 3 dimensi. Misalnya lukisan
atau patung.
10. Teknologi
Yaitu koleksi-koleksi yang berfungsi untuk mengubah
sesuatu, atau membuat sesuatu. Misalnya alat tenun.
Tugas museum ini adalah untuk
menjaga kebudayaan Jawa Barat, dan memamerkan kebudayaan tersebut kepada
masyarakat umum, sebagai sarana belajar dan mengajar, sebagai cara mengenal
kebudayaan dan sejarah, dan juga bisa diajdikan sebagai sarana rekreasi masyarakat
yang mendidik. Pada awalnya koleksi yang ada di museum ini adalah koleksi yang
dikumpulkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, tetapi sekarang
sudah banyak bertambah dengan koleksi yang didapat dari penelitian, ataupun
dari pengadaan sumber lain.
Sumber-sumber pengadaan lain yang dimaksud
diantaranya adalah :
ü Hibah, yaitu pemberian
dari pihak yang menemukan atau mempunyai koleksi tertentu, yang biasanya merasa
bahwa koleksi tersebut memiliki nilai sejarah dan budaya, tetapi pihak tersebut
tidak mampu untuk mengurusnya, jadi koleksi tersebut diberikan kepada museum
ini.
ü Ganti rugi, yaitu
ketika ada seseorang yang menemukan atau mempunyai koleksi yang mempunyai nilai sejarah dan budaya,
kemudian seseorang tersebut ingin memberikan
koleksi itu kepada museum ini dengan ganti rugi, dengan kata lain
koleksi ini dijual oleh penemu atau pemiliknya tersebut. Dalam pengadaan
koleksi melalui cara ganti rugi ini tentunya pihak museum hars benar-benar jeli
dan teliti dalan memilih koleksi mana yang patut untuk dijadikan koleksi museum ini atau
tidak, misalnya dilihat dari nilai sejarahnya apakah memang mengandung sejarah
yang berkaitan dengan Jawa Barat atau tidak, kemudian dari segi biaya juga
harus dipertimbangkan, apakah harga yang ditawarkan oleh pemiliknya itu sesuai
dengan nilai sejarahnya, apakah dana yang tersedia juga mencukupi untuk
pembelian. Untuk anggaran pengadaan koleksi di museum ini, setiap tahunnya ada
anggaran khusus dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Apabila dana untuk satu tahun
itu tidak digunakan semua, maka sisanya dikembalikan kepada pihak Dinas,
sebaliknya jika dana tersebut tidak mencukupi untuk pembelian tahun itu maka
pembelian dilakukan sebagian dulu atau ditargetkan untuk tahun depan, dan terus
berlaku seperti itu setiap tahunnya.
ü Titipan, yaitu ada
beberapa koleksi yang merupakan titipan dari seseorang atau masyarakat sekitar
yang merasa tidak mampu untuk menjaga dan mengurus koleksinya tersebut. Dalam
proses penerimaan koleksi titipan ini harus ada oerjanjian yang sah terlebih
dahulu antara pihak pemilik dan pihak museum, perjanjian tesebut mengenai
persetujuan tentang pembiayaan perawatan, berapa lama koleksi tersebut
dititipkan, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan koleksi tersebut.
Persetujuan-persetujuan ini harus ada untuk menghindari munculnya masalah atau
sesuatu yang tidak diharapkan, agar tidak ada pihak yang dirugikan.
Untuk pengadaan koleksi museum, tidak bisa
ditentukan cara apa yang lebih tepat untuk mengadakan koleksi, karena hal itu
disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan koleksi itu sendiri. Di museum
Sri Baduga ini, masyarakat dibebaskan untuk ikut mengadakan koleksi, baik itu
melalui cara hibah, ganti rugi ataupun titipan. Tentunya dengan mengikuti
aturan-aturan dan kebijakan yang diberlakukan oleh pihak museum, demi
terjaganya kemurnian budaya jawa barat. Dan demi menjaga keamanan koleksinya
itu sendiri.
Koleksi-koleksi yang ada di Museum ini
tentunya harus dirawat dengan baik untuk menjaga kelestariannya, dan juga agar
koleksi-koleksi tersebut bisa dilayankan kepada masyarakat sebagai bukti
sejarah dan budaya Jawa Barat. Perawatan koleksi di museum ini berbeda-beda
untuk setiap koleksi, tergantung dari bahan apa koleksi tersebut dibuat, dan
bagaimana cara perawatan yang tepat terhadap koleksi tersebut. Misalnya untuk
koleksi yang berbahan kulit, kertas, dan kain akan sangat rentan terhadap
kerusakan, sehingga pihak museum melakukan fumigasi untuk perawatan koleksi
tersebut.
Fumigasi adalah salah satu cara
melestarikan bahan pustaka dengan cara mengasapi bahan pustaka agar jamur tidak
tumbuh, binatang mati, dan perusak bahan pustaka lainya terbunuh. Kata fumigasi
diambil dari kata latin Fumigare yang berarti pengasapan.
·
Pelaksanaan Fumigasi
1.
Fumigasi dengan Carbon Disulfit (CS2)
Fumigasi yang
menggunakan Carbon Disulfit (CS2) yang dicampur dengan Carbon Tetra
Clorida (CCL4), dengan perbandingan 1:1 dalam 1 liter dapat
digunakan ruangan seluas 2m3
2.
Fumigasi dengan Methyl Bromida (CH3Br)
Tiap
satu meter kubik ruangan diperlukan 16-32 gram Methyl Bromida
3.
Fumigasi dengan Thymol Cristal
Tiap satu meter kubik
diperlukan Thymol Cristal sebanyak 50 gram
4.
Fumigasi dengan menggunakan napthaline
Untuk satu meter kubik
ruangan, diperlukan 810 gram napthaline
·
Ruang Fumigasi
Pekerjaan fumigasi ini harus dilengkapi
dengan :
1. Ruangan,lemari atau
kotak tertentu.
2. Perlengkapan petugas
seperti topeng penahan gas dan baju laboratorium.
3. Bahan kimia untuk
proses pengasapan.
4. Kipas angin atau blower
dan alat pembersih.
·
Berikut ini beberapa contoh sebagai pedoman fumigasi :
a.
Fumigasi untuk buku-buku yang berjumlah besar, tempat
mengadakanya ialah diseluruh gedung atau seluruh ruangan penyimpanan bahan
pustaka, bahan yang digunakan Hydrogen Cyadine, Methyl Bromide.
b.
Fumigasi untuk beberapa ratus buku. Ruangan yang
digunakan untuk keperluan fumigasi ialah ruangan khusus yang dihama udarakan,
bahan yang didinginkan ialah Ethlene Oxide dan Carbondioxide.
c.
Fumigasi untuk beberapa ratus buku. Ruangan yang
digunakan ialah ruangan khusus, bahan yang digunakan ialah Methyl Bromide.
d.
Fumigasi untuk beberapa buah buku, ruangan yang
digunakan ialah lemari yang tidak dapat masukan udara, kotak atau kaleng
biscuit yang tertutup, bahan yang digunakan kristal paradichlorobenzene.
Ada beberapa koleksi yang tidak terlalu
membutuhkan perhatian yang intens, seperti koleksi yang berbahan batu dan
keramik. Koleksi-koleksi ini tidak terlalu sulit perawatannya karena tidak
harus selalu dilakukan waktu yang bertahap, tapi tergantung pada keadaan
koleksi tersebut. Kemudian koleksi yang berbahan kayu tidak terlalu sulit dan
juga tidak terlalu mudah, waktu pelaksanaan perawatannya pun tidak difokuskan
pada waktu tertnetu.
Selain melakukan konservasi atau perawatan,
pihak museum juga melakukan kegiatan restorasi atau perbaikan terhadap koleksi
yang mengalami kerusakan. Perbaikan yang dilakukan tergantung pada bahan
koleksi tersebut, sejauh mana kerusakannya, dan bagaimana cara yang paling
tepat untuk memperbaikinya dan apa bahan yang digunakan untuk memperbaiki
koleksi tersebut.
Koleksi yang ditampilkan cukup mengesankan,
penempatan koleksi ditata sedemikian rupa seperti yang sudah dipaparkan
sebelumnya. Sejauh ini museum sudah melakukan tugasnya dengan baik. Tempatnya
nyaman dan sangat menarik.
Areal museum yang luasnya mencapai
8.415,5 m2 dibagi menjadi dua bagian; wilayah publik (public area), mencakup
gedung pameran dan auditorium dan wilayah buka publik (non public area),
mencakup ruang perkantoran Kepala Museum, Sub Bagian Tata Usaha, Kelompok Kerja
Bimbingan dan Edukasi, Kelompok Kerja Konservasi dan Preparasi serta Kelompok
Kerja Koleksi (termasuk di dalamnya Gedung Penyimpanan Koleksi).
Museum
Sri Baduga menyediakan beberapa fasiltas penunjang sebagai berikut:
1.
Auditorium
Digunakan
sebagi ruang audio visual, dan pertunjukan berbagai kesenian Jawa Barat baik
tradisional maupun yang sedang berkembang sekarang. Selain itu ,pada ruangan
ini digunakan pula sebagai tempat untuk penerimaan rombongan pengunjung yang
datang ke museum untuk mendapatkan informasi pendahuluan sebelum masuk ke ruang
pameran.
2.
Perpustakaan
Selain mengunjungi
ruang pameran museum pengunjung dapat pula melihat koleksi buku perpustakaan.
Perpustakaan dibuka pada hari Senin Sampai dengan jumat pukul 08.00 - 15.30
WIB.
3.
Ruang Pameran Khusus
Digunakan
sebagai tempat penyelenggaraan kegiata pameran khusus yang diselenggarakan oleh
museum sendiri maupun disewakan untuk umum,biasanya dari sekolah ataupun
pemerintah.
4.
Ruang Seminar
Digunakan
sebagai tempat untuk pelaksanaan kegiatan seminar, saresehan ceramah dan
kegiatan rapat yang diselenggarakan oleh museum maupun untuk disewakan.
5.
Musholla
Digunakan
untuk solat bagi pengunjung dan staf yang beragama Islam.
6.
Tempat Parkir
Museum Sri
Baduga memiliki Halaman museum yang dapat digunakan sebagai tempat parkir
dengan daya tampung sampai dengan 20 buah bus dan sering digunakan untuk
pertunjukan ataupun latihan anak sekolahan seperti pencak silat dan biasanya
diadakan perlombaan kaulinan zamah baheula.
Selain fasilitas
diatas, museum ini menyediakan juga akses internet gratis (wifi) dan ada pula fasilitas yang mendukung dalam sarana
pembangunan museum yaitu akses jalan bagi pengunjung kebutuhan khsus sehingga
pengunjung akan dengan mudah untuk mencari informasi di dalam museum. Selain
itu, ada pula exit emergency yang
mudah digunakan untuk membantu pengunjung ketika terdapat kejadian yang tidak
diingnkan. Dan selain exit emergency ada
juga alat pemadam pembakaran di setiap lantainya.
Pihak museum sangat
peduli dengan kenyamanan para pengunjung, maka dari itu fasiliats-fasilitas
tersebut disediakan. Museum memiliki kantin namun sedang tutup, di halaman
samping museum ada beberapa penjual makanan yang menyajikan makanan khas Jawa
Barat seperti batagor, bakso cuanki dan gorengan.
Untuk menjaga museum ini dilakukan
pengamanan dari berbagai aspeknya, baik itu dari aspek keamanan keberadaaan
koleksi, keamanan hak kepemilikan koleksi,dan lain-lain.
Ada beberapa landasan hukum yang menaungi kegiatan
Mueseum ini, yaitu :
a. Peraturan Pemerintah
No.19 Tahun 1995
b. Undang-undang BCB Tahun
2010
c. Peraturan daerah
Kemudian untuk pengamanan museumnya itu sendiri
dilakukan beberapa upaya yaitu :
a. Ada 3 orang yang
bertugas sebagai staf keamanan atau di museum ini yang biasa disebut dengan
KAMDA ( keamanan dalam).
b. Dipasang beberapa buah
CCTV untuk mengawasi dan memantau setiap kegiatan yang dilakukan di museum ini.
c. Lokasi museum ini
berdekatan dengan asrama polisi, sehingga lingkunganpun cenderung aman.
d. Disetiap sisi bangunan
luar dipasang pagar tinggi sebagai benteng pengamanan museum ini, agar akses
dari luar dapat terkendali dari pintu masuk saja, tidak bisa ada orang yang
sembarangan masuk lewat jalan pinggir atau belakang.
e. Ada alarm di setiap
ruangan khusus yang didalamnya tersimpan koleksi-koleksi atau barang-barang
penting, sehingga ketika ada akses ke ruangan tersebut diluar waktu yang
ditentukan, alarm tersebut akan berbunyi sebagai pemberitahuan adanya akses
yang patut dicurigai.
Museum Sri Baduga menyediakan
berbagai koleksi mengenai Geologika, Biologika,
Etnografika, Arkeologika, Historika, Numismatika/Heraldika, Filologika,
Keramik, Seni Rupa dan Teknologi. Banyak sekali koleksi
mengenai sejarah pada zaman dahulu.
Di setiap
koleksi yang disajikan di dalam museum terdapat pula bagian informasi di setiap
koleksinya berupa label. Pelabelan koleksi dilakukan oleh bagian seksi
perlindungan dan jabatan fungsional. Label tersebut cukup membantu pengunjung
dalam pemenuhan informasi yang dibutuhkannya.
Visitors
Service di Museum Sri Baduga sudah cukup baik, hanya saja
yang menjadi Tour Guide tidak berasal
dari ahli pariwisata. Meski demikian pada saat melakukan tour mereka cukup
mahir dalam menjelaskan mengenai isi sejarah museum tersebut. Museum Sri Baduga
ini dapat membangkitkan rasa penasaran pengunjung untuk mengetahui lebih dalam
mengenai koleksi museum. Museum ini merupakan museum yang sangat nyaman untuk
dikunjungi. Pengunjung tidak diperbolehkan makan dan minum di ruang pameran utama
dan kontemporer, tetapi diperbolehkan makan di ruang panggung terbuka.Karena
suasana museum yang cukup nyaman, maka tidak menutup kemungkinan jika para
pengunjung ingin datang kembali ke museum.
Museum Sri Baduga
memiliki kekurangan yaitu dari segi pelayanan, sumber daya manusia dan
penyampaian informasi (promosi). Dari segi pelayanan, museum Sri Baduga kekurangan sumber daya
manusia khususnya tour guide/ pemandu.
meskipun pengunjung sudah dilayani dengan baik, tetapi jika museum sedang ramai
pengunjung, pihak museum kewalahan melayaninya dikarenakan jumlah pemandu yang
terbatas. Dari segi penyampaian informasi (promosi), informasi mengenai museum
kurang tersampaikan karena terebentur anggaran. Meskipun museum Sri Baduga
sudah memiliki website yang bisa dikunjungi.
Kelebihan museum ini,
terus berusaha meningkatkan fasilitas, koleksi yang dimilikinya dan juga
menyediakan tempat untuk mahasiswa yang ingin PPL di museum ini. Lokasi museum yang cukup strategis memudahkan
untuk dikunjungi menjadi kelebihan tersendiri bagi Museum Sri Baduga ini.
Sumber :
Akbar,
Ali. (2010). Museum di Indonesia Kendala dan Harapan. [Online]
Diakses
pada 16 Desember 2015
[s.n]. (2011).Bab Ii Tinjauan Umum. [Online].
Tersedia di: http://library.binus.ac.id/eColls/eThesisdoc/Bab2/2011-2-00956-DI%20Bab2001.pdf Diakses
16 Desember 2015
http://www.museumsribaduga.jabarprov.go.id/#
Bet1xbet korean Sports Betting - Legalbet
BalasHapusOnline Bet1xbet has the following benefits: · Online 1xbet korean Bet1xBet allows you to หารายได้เสริม place wagers for a wide range kadangpintar of markets in a range of markets. · The Bet1xbet online sports betting
How to win at roulette with a casino site - Lucky Club Live
BalasHapus› lucky-club › sports-in- › luckyclub.live lucky-club › sports-in- Nov 2, 2021 — Nov 2, 2021 When betting roulette with the casino operator you are simply not likely to encounter any roulette bets, there is something unique to having to have the fun of